Seminar “Penguatan Peran Keluarga untuk Perkembangan Remaja yang Sehat dan Bahagia” dan Temu Alumni Psikologi UG

Program Studi   S1 dan S2 Psikologi Universitas Gunadarma telah menyelenggarakan seminar dan temu alumni. Seminar diselenggarakan dalam rangka Launching Kegiatan Bakti Sosial Alumni, dengan tema “Penguatan Peran Keluarga untuk Perkembangan Remaja yang Sehat dan Bahagia”. Dua acara tersebut diselenggarakan pada hari Rabu, 8 Agustus 2018 di Kampus Graha Simatupang Universitas Gunadarma, Jl  Letjend T.B. Simatupang Kav. 38 Tower 1A Lt.5 Jakarta Selatan. Seminar dihadiri oleh para Kepala Sekolah dan Guru Bimbingan Konseling di wilayah Jabodetabek, dan juga para dosen dan alumni program studi psikologi Universitas Gunadarma.

 

Seminar

Seminar diawali dengan laporan dari Ketua Panitia, Dr. Nilam Widyarini, Psikolog, yang menjelaskan latar belakang diselenggarakannya dua kegiatan tsb di atas. Kepala program S2 Psikologi Universitas Gunadarma ini menjelaskan bahwa kegiatan ini bermula dari inisiatif para alumni Program Magister Psikologi Profesi yang merasa prihatin karena melemahnya fungsi keluarga dalam perkembangan anak. Para alumni berencana melakukan psikoedukasi keluarga, bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek. Saat ini alumni telah selesai menyiapkan program, dan berharap  setelah seminar ini dapat bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek, menyelenggarakan psikoedukasi.

Acara seminar dan temu alumni tersebut dibuka secara resmi  oleh pimpinan UG, yang diwakili oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. Didin Mukodim. Wakil Rektor Bidang Kerja Sama ini mengungkapkan kegembiraannya atas penyelenggaraan kegiatan ini, siap mendukung, dan berharap kegiatan bakti social oleh alumni fakultas psikologi ini dapat bergulir terus memberi manfaat bagi masyarakat.

Acara seminar yang dihadiri oleh hampir 200 peserta ini menghadirkan tiga pakar, yaitu Prof. Dr. Yusti Probowati  (Dewan Pakar Apsifor, Wakil i, Psikolog, Ketua PP Himpsi), Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D. (Pakar Psikologi Sosial, Kepala Program Doktor Psikologi UG) , dan Dr. Seto Mulyadi, M.Psi., Psikolog (Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Dosen Psikologi UG).  Para peserta antusias mengikuti paparan tiga narasumber tsb dari awal hingga akhir, dan banyak mengajukan pertanyaan terkait masalah kongkrit yang mereka hadapi di dunia pendidikan maupun di dalam keluarga.

Prof. Yusti membawakan topik “Remaja yang Berkonflik dengan Hukum dan Sistem Penanganan Pemerintah di Indonesia”, mengungkapkan bahwa kriminal oleh remaja semakin meningkat, meliputi  masalah seksualitas, narkoba, serta kekerasan dan pembunuhan, yang memberikan imbas kuantitas kejahatan semakin buruk. Anak-anak yang berkonflik dengan hokum berasal dari keluarga yang bermasalah,  yaitu keluarga yang gagal dalam menjalankan fungsi keluarga. Semakin tidak ada dukungan sosial dari keluarga, anak semakin kacau.

Prof. Yusti menegaskan bahwa dua hal penting dalam pengasuhan anak adalah kontrol (aturan/norma) dan kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang kacau memunculkan anak dengan kepribadian yang buruk. Permasalahan yang sering muncul adalah : tidak ada norma, pengelolaan emosi yang tumpul, daya juang yang rendah dan pola pikir yang salah. Negara harus peduli dengan persoalan anak, termasuk anak yang bemasalah dengan hukum, sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat pastinya akan pro dengan anak.

Narasumber kedua, Prof. Djamaludin Ancok, memaparkan betapa pentingnya peranan guru dalam pendidikan. Anak-anak sekolah banyak menghabiskan waktunya di sekolah, sehingga membutuhkan guru yang kompeten dalam pedadogi, kepribadian, social, dan profesional. Prof. Ancok menyampaikan “Guru tersenyumlah, Guru bersabarlah, Guru harus berasumsi positif”.

Narasumber terakhir, Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto), mengatakan bahwa sebagai orang tua/guru jangan pernah berhenti belajar. Dunia anak adalah dunia bermain, pelajari tahapan-tahapan perkembangan anak. Anak-anak adalah peniru terbaik dan anak-anak memiliki ide kreatif, sebagai orang tua/guru sudah seharusnya menghargai kreativitas anak-anak. Dengan ramah Kak Seto menegaskan “Stop kekerasan terhadap anak-anak jadilah orang tua / guru idola nya anak-anak.”

Seminar yang berlangsung sangat dinamis tersebut akhirnya ditutup dengan penjelasan Ketua Tim Bakti Sosial, Gusmilizar, M.Psi., Psikolog., mengenai program bakti social yang ditawarkan ke sekolah-sekolah dari SD hingga Sekolah Menengah.  Psikoedukasi yang sifatnya interaktif melibatkan orang tua dan siswa, difasilitasi oleh sekolah. Narasumber psikoedukasi adalah para psikolog dan para ahli psikologi alumni Program S2 (profesi/sains) Psikologi, maupun alumni Program S1 Psikologi yang berprofesi dalam bidang pendidikan dan pengembangan SDM.  Acara launching bakti sosial ini diakhiri dengan membunyikan terompet oleh Kak Seto, sebagai tanda peresmian dimulainya agenda bakti social oleh alumni.

Temu Alumni

Seminar berakhir, dilanjutkan dengan temu-kangen alumni dalam kesempatan makan siang, dan  acara temu alumni secara formal diawali dengan menyanyikan mars Gunadarma.  Kata sambutan yang meriah  diberikan oleh Wakil Dekan III Psikologi, Dr. M. Fahrurrozi, dan dilanjutkan sambutan kedua oleh Kepala Program Magister Psikologi, Dr. Nilam Widyarini, Psikolog.

Temu alumni dilaksanakan dengan dua agenda, yaitu menghidupkan perkumpulan alumni sebagai wadah kegiatan melalui penyususnan dan pelantikan pengurus, dan sekaligus menyosialisasikan agenda kegiatan yang telah disusun sebelum kepengurusan diresmikan.

Perkumpulan alumni S1 Psikologi, yaitu IKAPSI (Ikatan Alumni Psikologi) UG, yang diketuai oleh Windu, S. Psi. Setelah pelantikan pengurus, Windu memaparkan program kegiatan, salah satunya adalah program kuliah tambahan (sharing knowledge) secara online yang diberikan oleh para alumni berdasarkan pengalaman professional di lapangan, ditujukan untuk mahasiswa S1 Psikologi UG.

Perkumpulan alumni S2 Psikologi, yaitu IKAMAPSI (Ikatan Alumni Magister Psikologi) UG, diketuai oleh Dr. Inge Andriani, M.Psi. IKAMAPSI melalui Tim Bakti Sosial memaparkan program bakti social yang dilaunching pada saat ini. Di awal program bakti social ini Tim Bakti Sosial menawarkan topik psikoedukasi: (1) Melejitkan Potensi Anak untuk Meraih Sukses; (2) Komunikasi Efektif antar Anak – Orang Tua; (3) Dll, sesuai kebutuhan. Hal yang menggembirakan adalah bahwa tawaran program bakti social ini langsung disambut secara positif oleh sekolah-sekolah, dan dijadwalkan mulai awal September 2018.